Bukan ayat yang salah tapi manusia yg tak faham
February 17, 2010 Leave a comment
Semoga Allah melindungi saya al fakir dari merasa pintar dan saleh.
Akhir-akhir ini Indonesia diramaikan dengan pembahasan masalah muamalat yang menggunakan ayat dalam bahasannya.Sangat disayangkan jika itu malah membuat sesat ummat.Dimulai dengan perisriwa madu (poligami) oleh Ustaz AA Gym, yang mendapat tekanan yang begitu berat dari sebagian besar ummat muslim di Indonesia terutama kaum hawa.Padahal apa yang ia buat bukanlah melanggar aturan agama.Kita tak mau memahami isi Al-Qur’an dengan fikiran yang jernih.Jika kita tak mampu memahami isi kandungan Al-Qur’an maka bukan ayat Qur’an yang salah, itu karena kita memang hamba yang dho’if.Menyalahkan ayat Qur’an bukankah kita telah nyata menyalahkan Allah.Na’uzu billahi min zalik.Allah maha mengetahui dan maha suci Allah dari segala kekurangan.Memang ayat mengenai polygami ini banyak di salagunakan, tapi bukan ayatnya yang salah, melainkan manusianya.
Lantas sekarang terbit lagi permasalahan baru.Katanya mereka yang merancang undang-undang Nikah Sirri itu berasal dari Depag (pengakuan mereka pada acara Debat di SCTV).Banyaknya orang menyalahgunakan Nikah Sirri bukan menjadi alasan merubah hukum Islam yang membolehkan Nikah Sirri menjadi tidak Syah.Yang benar adalah bahwa Nikah Sirri yg sesuai dengan aturan Islam adalah Syah, dan yang disalahgunakan tidak syah.
Jadi akan lebih baik jika mereka membuat alasan begini:
“Karena akhir-akhir ini menurut pengamatan kami, banyak yang sudah menyalahgunakan arti Nikah Sirri, maka demi memelihara harkat dan martabat manusia Indonesia, maka diwajibkan bagi setiap yang melakukan nikah sirri agar melaporkan ke KUA untuk dicatatkan, dan bagi yang tidak patuh akan dikenakan pidana”.
Jika ini bahasanya, saya kira tidak ada yang keberatan.Karena pihak yang keberatan, adalah kalau Nikah Sirri dianggap STJ alias status tak jelas dan dikatakan nikahnya tidak syah.
Memahami ayat hendaklah dengan hati yang bersih, tunduk semata-mata kepada hukum Allah.Itulah sebabnya buku-buku karangan ulama terdahulu sering di mulai dengan senantiasa memohon petunjuk Allah dan mengatakan jika apa yang dia tulis adalah semata-mata kebaikan Allah dan yang salah adalah karena dia dhaif dan fakir ilmu.Bil hidayati wattaufiq, kiranya Allah mengampuni.



Post Comment